Hanya 1 Pantai di Indonesia yang Masuk 10 Pantai
Terbaik di Asia
Biar pun Indonesia
disebut sebagai negara kepulauan dengan puluhan ribu pulau, tapi pantai
yang dikategorikan sebagai pantai terbaik ternyata hanya satu.
Situs id.travel.yahoo.com
merilis sepuluh pulau dengan pantai terbaik di Asia. Dari sepuluh
tujuan wisata itu ternyata di Indoneia hanya ada satu yang masuk
hitungan yaitu Pantai Nihiwatu di P. Sumba yang ditempatkan pada
peringkat keenam (Sepuluh Pulau dengan Pantai Terbaik di Asia,
25/8-2011)
Kumpulan penulis
pariwisata memilih pantai di daerah tropis di Asia yang menjadi tujuan
wisata bertolak dari kondisi pantai dengan hamparan pasir. Salah satu
pertimbangan dalam memilih pantai terbaik adalah suasana damai dengan
ketenangan dengan dukungan budaya lokal. Klassifikasi
inilah, agaknya, yang membut Pantai Kuta dan Pantai Sanur (P. Bali) dan
Pantai Senggigi (P. Lombok) tidak masuk hitungan.
Kondisi
dan suasana yang menentramkan hati menjadi titik tolak pemilihan pantai
terbaik di Asia. Tentu saja hiruk pikuk di Pantai Kuta dan
Pantai Senggigi tidak menggambarkan suasana damai untuk melepas penat.
Terkait dengan
penetapan pantai terbaik itu sudah saatnya pemerintah, dalam hal ini
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, menjaga agara pantai-pantai yang
tenang tidak dikembangkan menjadi area bisnis yang hiruk-pikuk.
Soalnya, sepuluh
pantai yang terpilih jauh dari keramaian dan kemewahan sehingga suasana
alamiah menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pantai terindah.
Pantai yang terletak
di barat daya Pulau Sumba ini berjarak sekitar 400 kilometer di timur P
Bali dikenal baik oleh para selancar manca negara dengan deburan ombak
yang dijuluki God’s Left.
Pantai-pantai yang
disebut terbaik adalah pantai yang eksotis yaitu pantai dengan
pemandangan yang alamiah. Tapi, dengan fasilitas pariwisata yang baik. Di Nihiwatu tersedia vila dan bungalow yang
menghadap ke Samudera Hindia. Konstruksi banguan khas daerah setempat
dengan hiasan ornamen dan tenunan.
Inilah
sepuluh pantai terbaik yang dipublikasikan oleh DestinAsian, yaitu: (1)
Bai Sao, Phu Quoc, Vietnam, (2) Godllawela Bay, Sri Lanka, (3) Pantai
Kenting, Taiwan, (4) Pantai Landaa Giraavaru, Atoll Baa, Maladewa, (5)
Pantai Luhuitou, Pulau Hainan, Cina, (6) Pantai Nihiwatu, Sumba,
Indonesia, (7) Pantai Radhanagar, Pulau Havelock, India, (8) Patnai
Siargao, Siargao, Filipina, (9) Pantai Sunrise, Loh Lipe, Thailand, dan
(10) Pantai Teluk Dalam Kecil, Redang Island, Malaysia.
Bertolak
dari penilaian terhadap pantai-pantai di Indonesia, maka perlu dijaga
agar pantai-pantai yang potensial sebagai tujuan wisata tidak seperti
pantai di P Bali dan P Lombok.
Jika
ingin berselancar di Nihiwatu, maka disarankan ke sana pada bulan April
sampai Desember.
Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba
Propinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari 6 wilayah Kecamatan
yaitu : Kec. Loli, Kec. Waikabubak, Kec. Tana Righu, Kec. Wanokaka, Kec.
Lamboya dan Kecamatan Lamboya Barat. Kota Kabupten Sumba Barat terletak
di Waikabubak.
Kabupaten Sumba barat terletak antara 9° 18' -
10° 20' LS dan 118° ' - 120°23' BT. Luas wilayah Kabupaten Sumba Barat
737.59 km2 dengan kemiringan 14° - 140°. Sumba Barat secara topografi
terdiri dari daratan-daratan, gunung dan perbukitan yang semuanya
menghasilkan pemandangan cantik berupa lembah-lembah yang membentang
dengan bukit-bukit. Namun di sisi lain, topografi semacam ini
mengakibatkan tanah rentan terhadap erosi.
WISATA ALAM
Banyak potensi wisata alam di Sumba Barat seperti pantai-pantai
berpasir putih, danau, air terjun, kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah
Daru, bukit-bukit serta lembah-lembah yang hijau.
1. Pantai Marosi yang terletak di Kec.Lamboya, sekitar 32 Km dari
Waikabubak. Pantai Marosi merupakan salah satu pantai tercantik di Sumba
Barat. Pantai ini dekat dengan arena Pasola Hobba Kalla (Pasola
Lamboya) serta sejumlah perkampungan tradisional.
2. Pantai Rua yang terletak di Kec. Wanokaka. Karena jaraknya yang
relatif dekat dengan Kota Waikabubak yaitu sekitar 27 km, maka pada hari
libur pantai ini menjadi alternatif utama bagi para wisatawan lokal
yang ingin melepas penat sambil berenang, memancing dan berjemur
matahari. Dari Waikabubak dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor
sekitar 1 jam perjalanan.
3. Pantai Nihi Watu juga terletak di Wanokaka. Pantai yang terletak di
desa nelayan kecil dan merupakan teempat dilaksanakannya upacara Nyale
pada dini hari menjelang Pasola. Terletak 21 Km sebelah Selatan kota
Waikabubak. Ombak di tempat ini merupakan salah satu yang tercepat di
mana pun. Tidak diragukan kalau Nihiwatu merupakan salah satu pantai
dengan ombak terbaik di Indonesia dan bahkan dunia. Tak hanya
berselancar, tempat ini juga memungkinkan dinikmati untuk berbagai
aktifitas mengasyikkan lain seperti mengendarai kuda di pantai,
memancing, menyelam, mengamati burung, bersepeda gunung hingga trekking
ke air terjun.
4. Air terjun Laipopu terletak di desa Katiku Loku, Kec. Wanokaka,
tepatnya di Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru. Air terjun yang
berada di kawasan TNMT ini mempunyai keunggulan berupa keindahan dari
lintasan air yang bertingkat-tingkat sehingga menebarkan butiran air ke
berbagai arah. Debit air yang selalu stabil di sepanjang musim menyusun
indahnya lumut dan tumbuhan yang menghijau di sekitar objek air terjun.
Hal yang dapat dilakukan adalah menikmati indahnya air terjun dengan
berfoto, melakukan pijat air dan merasakan dinginnya air dengan mandi
pada sekitar air terjun yang relatif aman bagi pengunjung.
Perjalanan menuju air terjun Laipopu ini memberikan tantangan tersendiri
dimana setiap wisatawan yang akan mencapai objek ini dihadapkan pada
jembatan gantung yang terbuat dari bambu, menyusuri lintasan berair dan
melewati tegakan yang tersusun dari pohon-pohon berkayu. untuk mencapai
Air Terjun Laipopu dapat ditempuh kurang lebih 45 menit dari pemukiman
penduduk melalui trail yang variatif.
Potensi lain yang dapat dinikmati wisatawan adalah habitat burung
kakatua, bentang sawah dan hasil kerajinan masyarakat Desa Katikuloku
berupa kain tenun dan anyaman.
Akses menuju lokasi air terjun relatif mudah, dari Waikabubak dapat
menuju Desa Katikuloku dengan angkutan umum selama kurang lebih 60
menit. Jalan yang dilalui berupa jalan aspal dan jalan perkerasan.
Sedangkan wisatawan dari Kota Waingapu dapat melalui rute
Waingapu-Waikabubak-Katikuloku dengan menggunakan jalan darat.
KUBUR
MEGALITIK
Keunikan perkampungan adat terhias dengan berbagai kubur batu yang berada di
tengah perkampungan, batu kubur tersebut tidak mempunyai nama ataupun nisan,
hanya terdapat berbagai ornamen atau relief berupa ukiran hewan-hewan yang
merupakan bagian dari adat istiadat Sumba yang tidak dapat di pisahkan, seperti
kerbau, ayam, anjing, kuda. Terdapat juga berbagai ornamen yang melambangkan
simbol budaya yang sering di gunakan pada kegiatan adat seperti mamoli, parang,
tombak, tombak.
Ornamen-ornamen tersebut mempunyai nilai budaya yang tinggi.
Keunikan lainnya adalah kebanyakan Kubur-kubur batu tersebut di dalamnya
mempunyai ruang yang besar karena di semayamkan bukan untuk seorang saja tetapi
di siapkan untuk beberapa orang yang masih bertalian keluarga, mereka di
letakkan pada satu ruang untuk di semayamkan. Pintu kubur batu terletak pada
bagian penutup atau atap kubur, fungsinya adalah akan di buka bila ada
seseorang yang meninggal dunia yang masih mempunyai hubungan darah untuk di
gabungkan dengan orang yang telah mendahuluinya. Bagi penganut kepercayaan
Marapu, esensi hidup adalah mencari berkah dengan selalu meminta petunjuk bila
akan melakukan sesuatu dan mensyukurinya bila mendapatkan hasil yang memuaskan,
dan mati adalah berpindah tempat dari kehidupan di alam ke tempat yang suci
(gaib).
Terdapat 2 sumbu utama yang menjadi pilar hubungan, yakni rumah adat (Uma
Marok) merupakan tempat tinggal orang hidup dan rumah dari batu (Uma Mati)
tempat tinggal orang yang telah meninggal dunia dan pola untuk menjaga ataupun
berhubungan antara orang hidup dengan orang mati adalah lewat ritual adat. Hal
ini di lakukan untuk menghormati keberadaan mereka di alam gaib agar manusia
selalu mendapat berkah sekaligus menolak bala atau murka.
POTRET
KAMPUNG ADAT
Kemasyhuran
kampung-adat di Sumba dengan berbagai konstruksi bangunan yang unik dengan
ditopang 4 sampai 6 tiang batang pohon sebagai penyanggah yang merupakan pilar
utama dari rumah tersebut dan hanya diikat menggunakan tali rotan sebagai
perekat dengan tiang-tiang pendukung lainnya adalah arsitektur tradisional yang
bernilai tinggi, telah banyak penelitian yang dilakukan untuk meneliti lebih
mendalam kekokohan dan keunikan bangunan rumah adat tersebut.
Pelataran perkampung adat di bumi sandelwood, pada umumnya terdapat dataran
linear yang berkontur (garis bentuk) tinggi, ± 80% dataran perkampungan
terbentuk dari berbatuan dan tanah yang keras dan tidak ditemukan vegetasi
didalamnya, vegetasi hanya ditemukan pada bagian lereng bukit perkampungan,
seolah menjadi garis pembatas dengan dataran di puncak bukit, dimana massa
bangunan berada. Sehingga, ruang perkampungan terbentuk dari tatanan massa
bangunan, kubur batu, kandang dan beberapa bagian kecil ruang kosong tempat
berkeliarannya ternak kecil peliharaan masyarakat.
Ada titik-titik tertentu yang sakral dan atau keramat dalam konteks kepercayaan
Marapu. Terbentuk ruang bersama pada tengah dataran, karena tatanan massa
bagunan yang bejejer dikiri dan kanan, dengan orientasi saling
berhadap-hadapan. Di tengah ruang bersama terdapat kubur-kubur
batu peninggalan nenek moyang, cerminan sejarah manusia purba. Antara tatanan
massa bangunan dan kubur batu berbentuk sirkulasi di dalam kampung yang
berfungsi sebagai jalan/lorong di dalam kampung.
Kampung-kampung
adat tersebut tak dapat dipisahkan dan dilepaskan dari adat-istiadat dan budaya
yang telah ikut menjaga keasrian dan keaslian rumah-rumah adat hingga sekarang,
letaknya yang pada umumnya berada di dataran tinggi (bukit) dan dikelilingi
pepohonan, terkesan di dalamnya terdapat kehidupan yang bersosial tinggi,
tradisional dan jauh dari kehidupan modernisasi.
Pola kehidupan orang Sumba sesungguhnya terdapat di perkampungan adat,
penokohan seseorang (Rato) yang secara turun temurun memimpin berbagai kegiatan
adat adalah pola pemimpin aristokrasi yang dipercaya telah turut menjaga
hubungan antara manusia dengan alam dan penguasa alam (Marapu), hal ini
diwujudkan dengan berbagai ritual adat yang melambangkan adanya sinkronisasi
antara manusia dengan alam.
Hegemoni adat telah mengikat dan mengontrol pola hidup sosial masyarakat agar
selalu patuh pada aturan-aturan adat yang telah disepakati bersama. Pola
kehidupan kekeluargaan yang sangat tinggi ini adalah pilar yang melestarikan
tradisi-tradisi adat untuk tetap terjaga, adanya kepatutan pada nilai-nilai
kesalehan yang terwujud pada karakter hubungan sosial, hal ini merupakan ciri
khas kehidupan pada perkampungan-perkampungan adat.
Walaupun terkesan angker dan menyeramkan karena di beranda kampung adat
terdapat kubur-kubur batu, namun pesona ketradisional dan keunikan merupakan
sisi tersendiri yang jelas terekam dari luar bahwa dahulu penghormatan pada
leluhur sangat tinggi. Para tokoh-tokoh adat yang meninggal disemayamkan
didepan rumah, ini adalah bukti penghormatan yang tinggi atas keberadaan mereka
selama masa hidup. Mereka adalah tokoh-tokoh kharismatik, yang memimpin ritual-ritual
adat (sebagai penghubung antara manusia dengan Marapu), mereka juga adalah
panutan masyarakat, kemampuan dalam berkomunikasi dengan roh-roh gaib adalah
contoh bahwa kepemimpinan mereka tergolong unik dan berkarakter penjiwaan
(kepercayaan yang kuat pada sesuatu yang dianggap suci).
Seperti pada umumnya di tempat lain di Pulau Sumba, Sumba Tengah juga memiliki
beberapa kampung adat yang khas dan unik, yang memilki corak kekhasan,
kampung-kampung tersebut memiliki riwayat cerita tersendiri, walaupun banyak
cerita sejarah yang hilang karena tidak seluruhnya dituliskan, namun
bukti-bukti fisik seperti batu kubur dan rumah-rumah adat menunjukan bahwa
dahulu terjalin hubungan yang harmonis antar manusia sendiri dan manusia dengan
roh-roh leluhur berupa penghormatan pada tempat-tempat yang disakralkan, dan
manusia percaya apabila para leluhur (Marapu) di hormati maka manusia pun akan
tetap sejahtera dan terus diberikan berkah.
Intinya, kepatutan pada sesuatu yang dianggap suci akan ikut menjaga
keharmonisan antara alam dan manusia, artinya alam akan selalu memberikan
kehidupan pada manusia misalnya lewat hasil panen padi yang baik, maka
selayaknyalah manusia mengucap syukur dan berterima kasih pada alam lewat
ritual atau upacara adat.harus melewati jalan menanjak dengan jarak tempuh 20
menit dengan berjalan kaki dari kampung Kabonduk, kampung ini terkesan terasing
dari dunia luar, keaslian kehidupan tradisional sangat terasa di kampung ini,
hanya terdapat beberapa buah rumah yang terpisah antara satu dengan yang
lainnya, berbagai kubur batu dengan berbagai bentuk terdapat di kampung ini, di
ujung kampung terdapat 2 buah bangunan tempat pelaksanaan Ritual adat Purungu
Ta Kadonga Ratu, yakni rumah kilat tempat dilakukan ritus adat oleh para tetua
adat (Rato) dan rumah pertemuan berbagai Kabisu (suku). Keunikan lain terdapat
sebuah tambur kuno yang bagian atasnya berasal dari kulit manusia, menurut
cerita, kulit itu adalah musuh yang berhasil di bunuh pada suatu pertempuran.
Beberapa
perkampungan adat:
A. KAMPUNG LAI TARUNG
Menyebut kampung Lai Tarung yang terlintas adalah sebuah kampung tempat
pelaksanaan ritual adat Purungu Takadonga Ratu. Kampung ini terletak di Desa
Makatakeri, kecamatan Katiku Tana, untuk mencapai kampung ini Suasana kampung
yang asri dengan bangunan arsitektur Sumba merupakan pola kehidupan yang
mengandung nilai-nilai historis budaya yang tetap terjaga keberadaannya.
Kampung Lai Tarung ini telah masuk pada Cagar Budaya Nasional, yang berpusat di
Bali, di bawah naungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
KAMPUNG ADAT
KAMBA DJAWA
Letaknya di Desa Umbu Pabal, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, sekitar 30 menit
ke arah utara dari Ibu Kota Waibakul, jalan menuju kampung ini masih berupa
pengerasan dengan jalan menanjak namun dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua
maupun empat. Kampung ini terdapat Upacara adat Purung Taliang Marapu, bangunan
adat berupa rumah kilat (rumah Marapu) terdapat di tengah kampung, rumah sakral
ini tempat dilakukan ritus pada upacara adat tersebut. Kehidupan yang arif
dengan pesona alam dapat dilhat dari kampung tersebut merupakan keeksotian yang
mengundang kekaguman pada keindahan alam yang terbentang di bawah kampung ini.
Kepatutan masyarakat adat pada nilai-nilai leluhur di ungkapkan lewat ritual
adat Purung Taliang Marapu.
C. KAMPUNG
WAWARONGU
Terletak di Desa Mananga, Kecamatan Mamboro, aroma mistik terpancarkan dari
kampung ini, rumah-rumah asli berarsitektur bangunan Sumba disertai beberapa
kubur batu yang berada di tengah-tengah kampung, salah satu kubur batu adalah
makam Umbu Tonga Rara Meha (orang pertama yang mendiami kampung ini). Upacara
adat Tonna Usu Manua (memanggil ayam hutan dan memberi makan di telapak tangan
sang pemanggil) berlangsung di kampung ini. Kemistikan kampung ini sangat
terasa dengan keberadaan rumah kilat (Marapu) di tengah perkampungan tempat
pelaksanaan ritual adat, di salah satu buah rumah tersimpan benda-benda yang
dikeramatkan seperti beberapa buah gong dan tambur yang di gantungkan didalam
rumah tersebut, gong dan tambur ini merupakan yang pertama dibuat, yang dahulu
di gunakan oleh para leluhur kampung ini pada kegiatan-kegiatan adat. Di salah
ruangan pada rumah ini terdapat benda-benda lain berupa piring yang sangat
dikeramatkan, tidak semua orang di ijinkan melihatnya, hanya pada saat tertentu
para tetua adat melakukan ritual khusus untuk membuka dan melihatnya, semua
benda-benda yang dikeramatkan pada rumah tersebut tidak di bolehkan untuk di
bawa keluar dari tempatnya. Di ujung barat kampung ini terdapat rumah sang
pawang buaya, pawang inilah yang pada saat tertentu melakukan ritual khusus
untuk memanggil buaya keluar dari sungai yang berada di belakang kampung ini
untuk melakukan persembahan sesuai dengan kepercayaan Marapu masyarakat
setempat. Kampung Wawarongu ini memiliki keunikan lainnya yaitu terdapatnya
kepala manusia tanpa badan yang masih utuh dengan rambutnya yang di letakkan di
sebuah wadah dan ditutupi dengan alang-alang, tidak diketahui secara pasti
kapan dan bagaimana kepala manusia tersebut berada di kampung ini, namun
menurut cerita, badan dari kepala tersebut berada di sebuah keraton di pulau
Jawa.
D. KAMPUNG
MANUA KALADA
Terletak di
Desa Wendewa Timur, Kecamatan Mamboro, kampung ini merupakan kampung adat
tertua atau biasa di sebut juga kampung Raja karena merupakan tempat Raja
Mamboro bertahta dan di makamkan, letak kampung ini berada pada ketinggian yang
dapat di lalui menggunakan kendaraan roda dua maupun empat, beberapa rumah adat
telah mengalami perubahan terutama pada atap rumah yang telah berganti seng
namun tetap memiliki keeksotian ketradisional kehidupan Sumba, di banding
kampung-kampung adat lainnya, kampung manua Kalada memiliki beranda yang luas
yang ditengahnya terdapat berbagai kubur batu. Kampung ini memiliki ritual adat
Tonna Usu Manua yang diselenggarakan setiap awal hujan yang ditandai dengan
bunyi petir atau guntur, ritual ini dilaksanakan untuk menolak Bala ( murka
atau bencana) kegiatan ritual ini adalah dengan mengadu 2 ekor jantan putih dan
hitam.
TARIAN
Ungkapan-ungkapan olah tubuh lewat tarian merupakan ekspresi jiwa yang penuh
makna dan pesan. Salah satunya adalah Tarian-tarian adat yang merupakan
ungkapan yang ketulusan pada sesuatu yang di anggap sakral dan suci, tarian
adat tetap terjaga secara turun temurun karena kesakralan dan identitas budaya
yang mengiringinya. Di bawah ini adalah tarian adat yang menjadi kebanggaan
masyarakat Sumba Tengah:
A. KATAGA
Pada jaman dahulu tari kataga merupakan tarian penyambutan pahlawan yang pulang
dari medan perang yang dilakukan oleh sekelompok pria dengan menggunakan
parang, tameng berbalutan kain adat dengan cara berbanjar. Namun pada saat ini
tari Kataga sering di pertunjukkan dalam acara-acara penyambutan tamu agung atau
pejabat ataupun pada acara khusus seperti nikah dan lain-lain, dalam tarian ini
terdapat pekikan khas (pakalak) untuk membangkitkan semangat.
B. HERUNG
LABA
Tari ini adalah tarian pemujaan/ penyembahan kepada Marapu (Leluhur). Dahulu
tarian Herung Laba merupakan penghormatan tertinggi kepada Merapu dan sering
dipertunjukkan pada acara pembukaan ritual adat “Purung Takadonga Ratu” ,
tarian ini dilakukan oleh sambil melantunkan syair-syair adat oleh seorang pria
sambil memukul tambur lalu seorang pria dan wanita menari. Namun saat ini
Herung Laba merupakan tarian muda mudi dalam mencari jodoh dan terkesan menjadi
tarian jenaka.
C. REJA
Tarian Reja adalah tarian kegembiraan, yang di pertunjukkan pada saat membangun
rumah atau membawa hasil panen kepada Marapu, dan lain-lain. Bentuk
penyajiannya adalah pria dan wanita bergandeng tangan menari sambil bernyanyi
diiringi irama gong dan tambur.
D. TARIAN
KAYAWARA
Kayawara artinya tarian pembatas, yaitu tarian yang membatasi antara saat
dimulainya dan diakhirinya suatu acara budaya. Kayawara adalah salah satu
tarian adat Mamboro yang pada mulanya dipentaskan pada acara-acara ritual,
seperti pada acara pembuatan rumah adat dan Samboru Adung (kayu ukir bersejarah
yang dipajangkan didepan rumah adat kampung). Dua orang penari laki-laki dan
satu penari perempuan, menari dengan serasi mengikuti irama gong. Para penari
memakai pakaian adat Mamboro dengan perangkat lengkap.
Penari laki-laki berpakaian putih dan penari perempuan berbusana hitam serta
kelengkapannya.
E. NENGGU
SARAMA
Nenggu: tarian
Sarama : Ronggeng, gerakan yang menggambarkan suatu suasana gembira.
Nenggu Sarama artinya tarian yang menggambarkan kegembiraan.
Nenggu Sarama adalah salah satu tarian tradisional yang pada zaman dahulu
dipentaskan pada upacara menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang.
Para penari mengenakan pakaian adat lengkap.
F. NA RENGU
Na : waktu itu, dahulu kala
Rengu : kebersamaan
Na Rengu berarti tarian kebesaran dan kebersamaan yang diiringi sebuah lagu
atau ungkapan rasa kebersamaan atau janji kebesaran sejak dahulu kala. Na Rengu
ditampilkan dalam 3 (tiga) bentuk gerakan yang masing-masing mengandung makna
tersendiri yang tidak dapat dipisahkan, dalam suasana berbaris dan
berpasang-pasangan dan pinggang laki-laki dipegang oleh perempuan
PESONA ALAM
Salah satu kekayaan alam di Sumba Tengah yang sangat luar biasa adalah pantai
dan air terjun. Keindahan pantai baik di sebelah selatan maupun utara merupakan
pemandangan yang menakjubkan, gulungan ombak yang menantang untuk berselancar
atau pun kekayaan bawah laut dengan berbagai terumbu karang adalah sisi lain
yang di dapatkan bila melakukan kegiatan wisata bahari.
Salah satunya adalah Pantai Kapulit di Kecamatan Mamboro, sekitar 5 km ke arah
utara, pantai ini memiliki keindahan laut yang menarik, pasir putih terbentang
dari arah barat hingga timur. Akses jalan yang cukup baik memudahkan wisatawan
untuk berkunjung ke pantai ini.
Seperti pantai, air terjun juga memilki daya tarik yang menakjubkan, seperti
pada gambar di bawah ini, yaitu air terjun Mbola, Letaknya sekitar 5 km dari
pusat Kecamatan Ratu Nggay Barat, Kabupaten Sumba Tengah, menuju lokasi air
terjun harus melewati kawasan hutan lalu menyusuri aliran sungai sekitar 15
menit perjalanan, akses jalan yang menantang menjadi kenikmatan tersendiri bagi
para pecinta alam, suasana hutan yang alami dan jernihnya aliran air sungai
merupakan kombinasi alam yang terkesan harmonis. Hutan yang alami dengan
berbagai jenis pohon disisi kanan dan kiri sungai menambah khazanah air terjun
tersebut. Air terjun Mbola merupakan obyek wisata yang eksotis, dengan
ketinggian sekitar 30 meter dari tempat air jatuh merupakan pemandangan yang
menakjubkan.
MATAYANGU
Terletak di
Kec. Katikutana Selatan, Di desa Manurara, berjarak ± 10 Km dari Ibu Kota Waibakul,
dapat ditempuh dengan kendaraaan roda dua maupun empat dan kemudian berjalan
kaki sekitar 30 menit, air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 50 meter,
tempat ini sangat eksostis, dan salah satu unggulan obyek wisata alam di
Kabupaten Sumba Tengah.
PANTAI AILI,
KONDA DAN MALOBA
Terletak
sekitar ± 25 km di sebelah selatan dari kota Waibakul, dapat ditempuh dengan
kendaraan roda dua maupun roda empat, keeksotian ketiga pantai tersebut dengan
keindahan pasir putih yang bersih mengundang kekaguman para pelancong yang
datang berkunjung. Ketiga pantai tersebut berada saling berdekatan namun
memiliki keunikan masing-masing. Pantai Aili memiliki batu karang yang berada
di pesisir pantai merupakan pesona tersendiri.
Pantai Konda
memiliki keunikan tersendiri karena memiliki pasir hitam yang berbeda dengan
pantai lainnya pada umumnya yang memiliki pasir putih, pantai ini sering di
gunakan wisatawan untuk melakukan kegiatan bahari seperti memancing dan
berselancar.
Pantai
Maloba memiliki bentangan pasir yang sangat luas dengan keunikan batu karang
yang dipuncaknya terdapat makam, berjalan diatas pantai tersebut seperti
berjalan diatas lantai yang tidak meninggalkan bekas kaki, pasir tersebut
memiliki permukaan yang keras sehingga memudahkan orang ataupun kendaraan
berjalan diatas pasir.
Keindahan ketiga pantai tersebut merupakan aset berharga Kabupaten Sumba Tengah
untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk datang berkunjung.
Pasola berasal
dari kata "sola" atau "hola", yang berarti sejenis lembing kayu
yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang
oleh dua kelompok yang berlawanan.Setelah mendapat imbuhan `pa' (pa-sola,
pa-hola), artinya menjadi permainan.Jadi pasola atau pahola berarti permainan
ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang
dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan.Pasola merupakan bagian dari
serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih
menganut agama asli yang disebut Marapu (agama lokal masyarakat sumba).Permainan
pasola diadakan pada empat kampung di kabupaten Sumba. Keempat kampung tersebut
antara lain Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura.Pelaksanaan pasola di keempat
kampung ini dilakukan secara bergiliran, yaitu antara bulan Februari hingga
Maret setiap tahunnya.
Sejarah
Menurut cerita rakyat Sumba, pasola berawal dari seorang janda cantik
bernama Rabu Kaba di Kampung Waiwuang.Rabu Kaba mempunyai seorang suami yang
bernama Umbu Dulla, salah satu pemimpin di kampung Waiwuang.Selain Umbu Dulla,
ada dua orang pemimpin lainnya yang bernama Ngongo Tau Masusu dan Yagi
Waikareri.Suatu saat, ketiga pemimpin ini memberitahu warga Waiwuang bahwa
mereka akan melaut.Tapi, mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timuruntuk mengambil padi.Warga menanti tiga orang
pemimpin tersebut dalam waktu yang lama, namun mereka belum pulang juga ke
kampungnya. Warga menyangka
ketiga pemimpin mereka telah meninggal dunia, sehingga warga pun mengadakan perkabungan.Dalam kedukaan
itu, janda cantik dari almarhum Umbu Dula, Rabu Kaba terjerat asmara dengan Teda
Gaiparona yang berasal dari Kampung Kodi. Namun keluarga dari Rabu Kaba dan
Teda Gaiparona tidak menyetujui perkawinan
mereka, sehingga mereka mengadakan kawin lari. Teda Gaiparona membawa
janda tersebut ke kampung halamannya. Beberapa waktu berselang, ketiga pemimpin
warga Waiwuang (Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula) yang
sebelumnya telah dianggap meninggal, muncul kembali di kampung halamannya. Umbu
Dula mencari isterinya yang telah dibawa oleh Teda Gaiparono. Walaupun berhasil
ditemukan warga Waiwuang, Rabu Kaba yang telah memendam asmara dengan Teda
Gaiparona tidak ingin kembali. Kemudian Rabu Kaba meminta pertanggungjawaban
Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari
keluarga Umbu Dulla. Belis merupakan banyaknya nilai penghargaan pihak
pengambil isteri kepada calon isterinya, seperti pemberian kuda, sapi,kerbau, dan
barang-barang berharga lainnya. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar
belis pengganti. setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan
pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona. Pada akhir pesta pernikahan, keluarga
Umbu Dulla berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam
wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik,
Rabu Kaba.
Proses upacara
Pasola diawali dengan pelaksanaan adat nyale. Adat nyale
adalah salah satu upacara rasa syukur atas anugerah yang didapatkan, yang
ditandai dengan datangnya musim panen dan cacing laut
yang melimpah di pinggir pantai. Adat tersebut dilaksanakan pada waktu bulan purnama
dan cacing-cacing laut (dalam bahasa setempat disebut nyale) keluar di
tepi pantai. Para Rato
(pemuka suku) akan memprediksi saat nyale keluar pada pagi hari, setelah hari
mulai terang. Setelah nyale pertama didapat oleh Rato, nyale dibawa ke majelis
para Rato untuk dibuktikan kebenarannya dan diteliti bentuk serta warnanya.
Bila nyale tersebut gemuk, sehat, dan berwarna-warni, pertanda tahun tersebut
akan mendapatkan kebaikan dan panen yang berhasil. Sebaliknya, bila nyale kurus dan rapuh,
akan didapatkan malapetaka. Setelah itu penangkapan nyale baru boleh dilakukan
oleh masyarakat. Tanpa mendapatkan nyale, Pasola tidak dapat dilaksanakan. Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga
dari kedua kelompok yang bertanding, masyarakat umum, dan
wisatawan asing maupun lokal. Setiap kelompok terdiri atas lebih dari 100
pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat dari kayu berujung tumpul dan berdiameter
kira-kira 1,5 cm. Walaupun berujung tumpul, permainan ini dapat memakan korban jiwa.
Kalau ada korban dalam pasola, menurut kepercayaan Marapu, korban tersebut
mendapat hukuman dari para dewa karena telah telah melakukan suatu pelanggaran atau
kesalahan. Dalam permainan pasola, penonton dapat melihat secara langsung dua
kelompok ksatria sumba yang sedang berhadap-hadapan, kemudian memacu
kuda secara lincah sambil melesetkan lembing ke arah lawan. Selain itu, para
peserta pasola ini juga sangat tangkas menghindari terjangan tongkat yang
dilempar oleh lawan. Derap kaki kuda yang menggemuruh di tanah lapang, suara
ringkikan kuda, dan teriakan garang penunggangnya menjadi musik alami yang
mengiringi permainan ini. Pekikan para penonton perempuan
yang menyemangati para peserta pasola, menambah suasana menjadi tegang dan
menantang. Pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur
dianggap berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panen. Apabila terjadi kematian dalam
permainan pasola, maka hal itu menandakan sebelumnya telah terjadi pelanggaran
norma adat yang dilakukan oleh warga pada tempat pelaksanaan pasola.
Manfaat
Pasola tidak sekadar menjadi bentuk keramaian, tetapi menjadi salah satu
bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur.
Pasola merupakan kultur religius yang mengungkapkan
inti religiotas agama Marapu. Pasola
menjadi perekat jalinan persaudaraan antara dua
kelompok yang turut dalam pasola dan bagi masyarakat umum. Pasola menggambarkan
rasa syukur dan ekspresi kegembiraan masyarakat setempat, karena hasil panen
yang melimpah. Pasola dapat dijadikan tonggak kemajuan pariwisataSumba, karena atraksi budaya ini sudah diketahui banyak wisatawan mancanegara.
Hal ini terlihat dalam setiap acara pasola selalu ada turis asing yang datang.Warisan
budaya ini merupakan aset untuk meningkatkan pendapatan asli daerah
Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.
Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae adalah Ska dan Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di Jamaika yang sarat dengan pengaruh musik Afro-Amerika. Secara teknis dan musikal banyak eksplorasi yang dilakukan musisi Ska, diantaranya cara mengocok gitar secara terbalik (up-strokes) , memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks.
Teknik para musisi Ska dan Rocsteady dalam memainkan alat musik, banyak ditirukan oleh musisi reggae. Namun tempo musiknya jauh lebih lambat dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol. Karakter vokal biasanya berat dengan pola lagu seperti pepujian (chant), yang dipengaruhi pula irama tetabuhan, cara menyanyi dan mistik dari Rastafari. Tempo musik yang lebih lambat, pada saatnya mendukung penyampaian pesan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan sosial politik humanistik dan universal.
Album “Catch A Fire” (1972) yang diluncurkan Bob Marley and The Wailers dengan cepat melambungkan reggae hingga ke luar Jamaika. Kepopuleran reggae di Amerika Serikat ditunjang pula oleh film The Harder They Come (1973) dan dimainkannya irama reggae oleh para pemusik kulit putih seperti Eric Clapton, Paul Simon, Lee ‘Scratch’ Perry dan UB40. Irama reggae pun kemudian mempengaruhi aliran-aliran musik pada dekade setelahnya, sebut saja varian reggae hip hop, reggae rock, blues, dan sebagainya.
Jamaika
Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”. Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikuti pula dengan melesunya perdagangan gula dunia.
Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun membekaskan produk silang budaya yang akhirnya menjadi tradisi folk asli Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika atau Eropa dengan cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur.
Musik reggae sendiri pada awalnya lahir dari jalanan Getho (perkampungan kaum rastafaria) di Kingson ibu kota Jamaika. Inilah yang menyebabkan gaya rambut gimbal menghiasi para musisi reggae awal dan lirik-lirik lagu reggae sarat dengan muatan ajaran rastafari yakni kebebasan, perdamaian, dan keindahan alam, serta gaya hidup bohemian. Masuknya reggae sebagai salah satu unsur musik dunia yang juga mempengaruhi banyak musisi dunia lainnya, otomatis mengakibatkan aliran musik satu ini menjadi barang konsumsi publik dunia. Maka, gaya rambut gimbal atau dreadlock serta lirik-lirik ‘rasta’ dalam lagunya pun menjadi konsumsi publik. Dalam kata lain, dreadlock dan ajaran rasta telah menjadi produksi pop, menjadi budaya pop, seiring berkembangnya musik reggae sebagai sebuah musik pop.
Musik reggae, sebutan rastaman, telah menjadi satu bentuk subkultur baru di negeri ini, di mana dengannya anak muda menentukan dan menggolongkan dirinya. Di sini, musik reggae menjadi penting sebagai sebuah selera, dan rastaman menjadi sebuah identitas komunal kelompok social tertentu. Tinggal bagaimana para pengamat social dan juga para anggota komunitas itu memahami diri dan kultur yang dipilihnya, agar tidak terjadi penafsiran keliru yang berbahaya bagi mereka. Penggunaan ganja adalah salah satu contohnya, di mana reggae tidak identik dengan ganja serta rastafarianisme pun bukanlah sebuah komunitas para penghisap ganja.
Sebuah lagu dari “Peter Tosh” (nama aslinya Peter McIntosh), pentolan The Wairles yang akhirnya bersolo karier. Dalam lagu ini, Peter Tosh menyatakan dukungannya dan tuntutannya untuk melegalkan ganja. Karena lagu ini, ia sempat ditangkap dan disiksa polisi Jamaika.
Menurut sejarah Jamaica, budak yang membawa drum dari Africa disebut “Burru” yang jadi bagian aransemen lagu yang disebut “talking drums” (drum yang bicara) yang asli dari Africa Barat. “Jonkanoo” adalah musik budaya campuran Afrika, Eropa dan Jamaika yang terdiri dari permainan drum, rattle (alat musik berderik) dan conch tiup. Acara ini muncul saat natal dilengkapi penari topeng. Jonkanoos pada awalnya adalah tarian para petani, yang belakangan baru disadari bahwa sebenarnya mereka berkomunikasi dengan drum dan conch itu. Tahun berikutnya, Calypso dari Trinidad & Tobago datang membawa Samba yang berasal dari Amerika Tengah dan diperkenalkan ke orang - orang Jamaika untuk membentuk sebuah campuran baru yang disebut Mento. Mento sendiri adalah musik sederhana dengan lirik lucu diiringi gitar, banjo, tambourine, shaker, scraper dan rumba atau kotak bass. Bentuk ini kemudian populer pada tahun 20 dan 30an dan merupakan bentuk musik Jamaika pertama yang menarik perhatian seluruh pulaunya. Saat ini Mento masih bisa dinikmati sajian turisme. SKA yang sudah muncul pada tahun 40 - 50an sebenarnya disebutkan oleh History of Jamaican Music, dipengaruhi oleh Swing, Rythym & Blues dari Amrik. SKA sebenarnya adalah suara big band dengan aransemen horn (alat tiup), piano, dan ketukan cepat “bop”. Ska kemudian dengan mudah beralih dan menghasilkan bentuk tarian “skankin” pad awal 60an. Bintang Jamaica awal antara lain Byron Lee and the Dragonaires yang dibentuk pada 1956 yang kemudian dianggap sebagai pencipta “ska”. Perkembangan Ska yang kemudian melambatkan temponya pada pertengahan 60an memunculkan “Rock Steady” yang punta tune bass berat dan dipopulerkan oleh Leroy Sibbles dari group Heptones dan menjadi musik dance Jamaika pertama di 60an.
“Reggae & Rasta”
Bob Marley tentunya adalah bimtang musik “dunia ketiga” pertama yang jadi penyanyi group Bob Marley & The Wailers dan berhasil memperkenalkan reggae lebih universal. Meskipun demikian, reggae dianggap banyak orang sebagai peninggalan King of Reggae Music, Hon. Robert Nesta Marley. Ditambah lagi dengan hadirnya “The Harder they Come” pada tahun 1973, Reggae tambah dikenal banyak orang. Meninggalnya Bob Marley kemudian memang membawa kesedihan besar buat dunia, namun penerusnya seperti Freddie McGregor, Dennis Brown, Garnett Silk, Marcia Fiffths dan Rita Marley serta beberapa kerabat keluarga Marley bermunculan. Rasta adalah jelas pembentuk musik Reggae yang dijadikan senjata oleh Bob Marley untuk menyebarkan Rasta keseluruh dunia. Musik yang luar biasa ini tumbuh dari ska yang menjadi elemen style American R&B dan Carribean. Beberapa pendapat menyatakan juga ada pengaruh : folk music, musik gereja Pocomania, Band jonkanoo, upacara - upacara petani, lagu kerja tanam, dan bentuk mento. Nyahbingi adalah bentuk musik paling alami yang sering dimainkan pada saat pertemuan - pertemuan Rasta, menggunakan 3 drum tangan (bass, funde dan repeater : contoh ada di Mystic Revelation of Rastafari). Akar reggae sendiri selalu menyelami tema penderitaan buruh paksa (ghetto dweller), budak di Babylon, Haile Selassie (semacam manusia dewa) dan harapan kembalinya Afrika. Setelah Jamaica merdeka 1962, buruknya perkembangan pemerintahan dan pergerakan Black Power di US kemudian mendorong bangkitnya Rasta. Berbagai kejadian monumentalpun terjadi seiring perkembangan ini.
“Apa sih Reggae”
Reggae sendiri adalah kombinasi dari iringan tradisional Afrika, Amerika dan Blues serta folk (lagu rakyat) Jamaika. Gaya sintesis ini jelas menunjukkan keaslian Jamaika dan memasukkan ketukan putus - putus tersendiri, strumming gitar ke arah atas, pola vokal yang ‘berkotbah’ dan lirik yang masih seputar tradisi religius Rastafari. Meski banyak keuntungan komersial yang sudah didapat dari reggae, Babylon (Jamaika), pemerintah yang ketat seringkali dianggap membatasi gerak namun bukan aspek politis Rastafarinya. “Reg-ay” bisa dibilang muncul dari anggapan bahwa reggae adalah style musik Jamaika yang berdasar musik soul Amerika namun dengan ritem yang ‘dibalik’ dan jalinan bass yang menonjol. Tema yang diangkat emang sering sekitar Rastafari, protes politik, dan rudie (pahlawan hooligan). Bentuk yang ada sebelumnya (ska & rocksteady) kelihatan lebih kuat pengaruh musik Afrika - Amerika-nya walaupun permainan gitarnya juga mengisi ‘lubang - lubang’ iringan yang kosong serta drum yang kompleks. Di Reggae kontemporer, permainan drum diambil dari ritual Rastafarian yang cenderung mistis dan sakral, karena itu temponya akan lebih kalem dan bertitik berat pada masalah sosial, politik serta pesan manusiawi.
“Tidak asli Jamaika”
Reggae memang adalah musik unik bagi Jamaika, ironisnya akarnya berasal dari New Orleans R&B. Nenek moyang terdekatnya, ska berasal berasal dari New Orleans R&B yang didengar para musisi Jamaika dari siaran radio Amrik lewat radio transistor mereka. Dengan berpedoman pada iringan gitar pas - pasan dan putus - putusadalah interprestasi mereka akan R&B dan mampu jadi populer di tahun 60an. Selanjutnya semasa musim panas yang terik, merekapun kepanasan kalo musti mainin ska plus tarinya, hasilnya lagunya diperlambat dan lahirlah Reggae. Sejak itu, Reggae terbukti bisa jadi sekuat Blues dan memiliki kekuatan interprestasi yang juga bisa meminjam dari Rocksteady (dulu) dan bahkan musik Rock (sekarang). Musik Afrika pada dasarnya ada di kehidupan sehari-hari, baik itu di jalan, bus, tempat umum, tempat kerja ato rumah yang jadi semacam semangat saat kondisi sulit dan mampu memberikan kekuatan dan pesan tersendiri. Hasilnya, Reggae musik bukan cuma memberikan relaksasi, tapi juga membawa pesan cinta, damai, kesatuan dan keseimbangan serta mampu mengendurkan ketegangan.
“It’s Influences”
Saat rekaman Jamaika telah tersebar ke seluruh dunia, sulit rasanya menyebutkan berapa banyak genre musik popular sebesar Reggae selama dua dekade. Hits - hits Reggae bahkan kemudian telah dikuasai oleh bintang Rock asli mulai Eric Clapton sampai Stones hingga Clash dan Fugees. Disamping itu, Reggae juga dianggap banyak mempengaruhi pesona tari dunia tersendiri. Budaya ‘Dancehall’ Jamaika yang menonjol plus sound system megawatt, rekaman yang eksklusif, iringan drum dan bass, dan lantunan rap dengan iringannya telah menjadi budaya tari dan tampilan yang luar biasa.Inovasi Reggae lainnya adalah Dub remix yang sudah diasimilasi menjadi musik populer lainnya lebih luas lagi.